Djavavista – Tiap kota di dunia, pasti punya yang namanya Chinatown, kawasan yang dihuni etnis Tionghoa dan menjadi destinasi wisata. Di Jakarta, ada tur ke kawasan Chinatown di Glodok lho!

Adalah Walkindies Travel CO, operator tur yang menawarkan paket wisata A City Outside The Wall. Suatu wisata berjalan kaki mengelilingi kawasan Chinatown di Glodok, Jakarta Barat. detikTravel, ikut langsung tur ini pada Rabu (28/10/2015) kemarin.

“Meeting point kita memang di Halte Busway Glodok. Dari sini, kita berjalan mengelilingi kawasan Petak 9 dan melihat vihara,” tutur Supriyatno, pemandu dari Walkindies Travel CO.

Pertama, pria yang akrab disapa Supri mengajak ke Vihara Dharma Bakti. Inilah salah satu vihara tertua yang sudah berdiri sejak tahun 1650. Tapi sayang, awal tahun 2015 ini bangunan utama viharanya terbakar habis dan tinggal menyisakan puing-puing hitam.

“Sebelum viharanya terbakar, kami mengajak turis masuk ke dalamnya dan melihat orang-orang yang beribadah. Mereka pun bebas memotret di dalamnya. Sedih juga sih, vihara ini terbakar,” tutur Supri.

Dari sana, perjalanan dilanjutkan ke Toko Obat Karti Djaja. Toko obat yang berisikan obat-obatan serta ramuan herbal ala Tionghoa yang bisa mengobati beragam penyakit. Begitu masuk ke dalamnya, bau menyengat dari berbagai ramuan langsung tercium.

“Di sini segala macam obat ada, dari berbagai ramuan seperti dari kuda laut. Biasanya, turis yang kami ajak tak sedikit yang mengecek kesehatan di sini dan membeli obat. Salah satu toko obat paling terkenal juga di Petak 9,” ujar Supri.

Dari sana, kami bergegas menuju pasar tradisional di petak 9 dan Gang Gloria. Aneka kue-kue, aksesoris dan lagu-lagu ala orang Tionghoa terlihat sejauh mata memandang. Kalau kata Supri, ini jadi tempat kesukaan turis karena mereka bisa berinteraksi langsung dan merasakan suasana Chinatown banget!

Selanjutnya, kami istirahat sejenak di Kopi Es Tak Tie. Inilah warung kopi yang bukan sembarang warung kopi. Kopi Es Tak tie sudah ada sejak tahun 1920-an dan cita rasa kopinya sangat enak. Dari dulu sampai sekarang, warung kopi ini jadi tempat orang-orang Tinghoa untuk minum kopi dan berkumpul bersama.

“Di sini, kami ajak turis minum kopi dan berdiskusi lebih dalam soal sejarah etnis Tionghoa datang ke Jakarta termasuk sejarah Chinatown di Glodok ini,” kata Supri sambil mengeluarkan lembaran-lembaran gambar Glodok dan Petak 9 di masa lalu.

Supri menjelaskan, hampir di tiap negara pasti ada Chinatown. Hal itu dikarenakan, etnis Tionghoa suka merantau sejak abad ke-5 dan berkeliling dunia. Supri juga menjelaskan sejarah Chinatown di Glodok ini.

Chinatown_Jakarta_Djavavista_2“Tahun 1740, terjadi peristiwa Geger Pacinan. Di mana, etnis Tionghoa diserang oleh kolonial Belanda sehingga mereka mengungsi ke luar Batavia (Jakarta di masa lalu). Namun setelah itu, pihak Belanda merasa bersalah karena orang-orang Tionghoa juga berjasa di perdagangan. Kemudian, dikumpulkanlah orang-orang Tionghoa di dalam satu kawasan, di Glodok ini,” cerita Supri.

Mengapa di Glodok? Karena saat itu pusat pemerintahan kolonial Belanda ada di kawasan Kota Tua. Glodok dulunya adalah daerah pinggiran dan bekas penjara. Sehingga, orang-orang Tionghoa mudah diawasi. Maka dari itu, tur dari Walkindies Travel CO dinamakan A City Outside The Wall. Suatu kiasan yang menggambarkan kehidupan masyarakat Tionghoa di zaman dulu.

Kemudian, kami beranjak ke berbagai kelenteng di sana seperti K3lenteng Toa Se Bio. Dalam mengelilingi Petak 9 ini, kami berjalan kaki karena konsepnya adalah walking tour.

Sekitar 2 jam, akhirnya tuntas juga perjalanan detikTravel dalam tur ini. Satu tempat yang menurut Supri menarik perhatian turis adalah di pasar buah. Di sanalah, banyak turis asing yang kaget melihat buah-buah asli Indonesia seperti salak.

“Tur ini merupakan yang paling digemari turis karena suasana Chinatown-nya begitu kental. Untuk harga, silakan cek di website kami dan biasanya perjalanan dimulai pukul 09.00 WIB. Makin pagi, makin bagus karena belum terlalu terik mataharinya,” tutup Supri.

SUMBER : Detik Traveler